Kapolri Buka Jambore Karhutla Riau 2025, dan Tekankan Pentingnya Antisipasi Ancaman Karhutla
lintas77.blogspot.com
Lintas77.blogspot.com, Siak -- Acara Pembukaan Jambore Karhutla Riau 2025 di Bumi Perkemahan Tahura Sultan Syarif Hasyim, Siak, pada hari Jum'at, tanggal (25/4/2025).
Berikut, acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Selaku Inspektur Upacara, Kapolri dalam amanatnya mengatakan, Negara Indonesia memiliki potensi kekayaan hutan yang sangat besar, dengan total luas mencakup 95,5 juta hektare.
Selanjutnya, Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebutkan Negara Indonesia menempati urutan ke-8 sebagai negara dengan kawasan hutan terluas di dunia, dan berfungsi sebagai salah satu paru-paru dunia.
"Namun di sisi lain, kondisi kawasan hutan yang luas juga memiliki tantangan serius, yaitu terjadinya "deforestasi", yang salah satu penyebab utamanya adalah Karhutla," ujar Sigit.
Beliaupun juga menyampaikan, setidaknya ada 376 ribu hektare hutan yang terbakar disepanjang tahun 2024. Oleh sebab Kebakaran hutan itu sangat berdampak luas bagi kehidupan masyarakat, khususnya dari segi ekonomi dan kesehatan.
Lystio Sigit Prabowo mengatakan Khususnya untuk Provinsi Riau, tingkat kebakaran hutan yang terjadi pada tahun lalu berada di urutan ke-11, dengan total hutan yang terbakar mencapai 11 ribu hektar.
"Hal ini perlu mendapat perhatian khusus, mengingat dampak asap yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan di Provinsi Riau, melainkan dapat meluas ke Provinsi lain bahkan negara tetangga," jelasnya.
Menurut analisis BMKG, durasi musim kemarau pada tahun ini diperkirakan akan lebih pendek dari tahun lalu dengan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus.
Di sisi lain, tingkat kekeringan pada musim kemarau tahun ini relatif normal dikarenakan fenomena iklim global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole ada
dalam fase netral. Sehingga di sepanjang Tahun 2025 diperkirakan tidak akan terjadi kekeringan ekstrim.
Sementara untuk wilayah Riau, potensi titik panas akibat cuaca kering dan rendahnya curah hujan diprediksi akan mulai terjadi sejak Mei, dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada Juli 2025.
Kendatipun demikian, Pemprov Riau bersama seluruh stakeholder terkait telah mengambil langkah proaktif dengan menetapkan Status Siaga Darurat Bencana
Karhutla sejak 1 April hingga 30 November.
Maka, langkah itu dilakukan sebagai upaya mitigasi dalam mengantisipasi potensi karhutla, seiring dengan karakteristik cuaca yang lebih kering dibandingkan hari lainnya.
" Untuk menghadapi situasi ini, penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, dan kesiapsiagaan, serta menerapkan strategi yang efektif dalam pencegahan dan penanggulangan Karhutla," pungkas Sigit Lystio Prabowo.(Gurgur)





